Wawali Whisnu Sakti: Pemimpin Surabaya Harus Memiliki Fasilitative Leadership

Wawali Whisnu Sakti: Pemimpin Surabaya Harus Memiliki Fasilitative Leadership

SURABAYA – Masa kepemimpinan pasangan Risma-Whisnu sebagai pemimpin Tanah air Surabaya , status menghitung hari. Kinerja keras keduanya yang telah dibangun selama perut periode, masih perlu penambahan untuk lebih baik. (Baca juga: Status Siaga, Merapi Keluarkan 11 Kali Guguran Lava Pijar dan Suara Gemuruh)

Ke depan, pengambilan kebijakan pada Kota Pahlawan harus lebih membawabawa peran aktif masyarakat. Sudah tidak lagi didominasi oleh Pemerintah Kota Surabaya . Berdasarkan pengalaman Wakil Wali Kota Surabaya , Whisnu Sakti Buana, bentuk partisipasi masyarakat saat ini jauh lebih meningkat.

“Bahwa saat ini partisipasi warga Surabaya sudah luar biasa, ” kata Whisnu saat menjadi rujukan diskusi online bertemakan Surabaya Jangan Ambyar, Surabaya Madani. Menurut Whisnu yang telah enam tahun mengabdi sebagai orang nomor dua di Surabaya , secara struktur birokrasi di tubuh Pemkot telah cukup baik.

Hal ini ditandai dengan pelayanan publik dan penataan kota yang kian cantik sehingga menjadi daya tarik tersendiri. “Tinggal bagaimana Pemimpin Surabaya berikutnya bisa menggali peran mengikuti warga. Khususnya di perkampungan, ” terang politisi PDIP yang akrab disapa WS ini. (Baca juga: Puluhan Botol Minol Disita Dari Toko Milik Pokok Setangah Baya)

Mengucapkan Juga:

Jadi kota dengan kultur egaliter yang didominasi perkampungan, pemimpin Surabaya kedepan harus memiliki istilah telinga lebar. Yakni, mau mendengar dan mengajak kelompok untuk melakukan problem solving bersama.

Sebab, peran mengikuti masyarakat perkampungan sudah cukup sendiri. Itu dibuktikan dari program-program Pemkot sejak era Bambang DH had Risma. Program pavingisasi, pemberdayaan UKM Kampung Lontong, Kampung Dinamo, mematok penataan taman menjadi bukti bahwa Surabaya layak sebagai yang patut dicontoh.

WS menambahkan, dengan jalan apa rencana program membumikan Tri Ajaib Bung Karno yang digagasnya di dalam 10 November tahun lalu zaman running dalam pencalonan sebagai Pemangku Kota Surabaya , bisa menjadi keberlanjutan.

Program itu diantaranya, Berdaulat secara politik yang melibatkan warga kampung untuk bisa mengembangkan potensi kampung sebagai jati kultur Surabaya . (Baca juga: Mengajak Polisi Mabuk dan Menangkapnya, Perakit Konten Ini Tak Berkutik Masa Dibekuk)