Restrukturisasi Kredit Perlu Dilakukan Selama Pandemi Masih Berlangsung

Restrukturisasi Kredit Perlu Dilakukan Selama Pandemi Masih Berlangsung

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan untuk memperpanjang kebijakan relaksasi restrukturisasi kreditselama setahun. Kiprah itu setelah memperhatikan penilaian terakhir OJK terkait debitur restrukturisasi semenjak diputuskannya rencana memperpanjang relaksasi bilamana Rapat Dewan Komisioner OJK tanggal 23 September 2020. (Baca juga: Mau Tahu Seluk Beluk Rekan Modal, Cek CMSE 2020 Maya yang Berakhir Besok)

Pengkritik Ekonomi Piter Abdulah mengatakan, restrukturisasi kredit sangat dibutuhkan oleh negeri usaha dan juga oleh perbankan atau leasing. Di tengah pandemi, dunia usaha mengalami tekanan aliran kas yang sangat berat. Penerimaan turun sementara pengeluaran tetap tinggi.

“Termasuk untuk pembayaran pokok dan bunga kredit bank. Kalau tidak dibantu maka nama mereka ke bank akan terhenti. Kalau itu terjadi mereka pelik untuk bangkit kembali karena mereka akan tidak bisa dapat nama baru, ” ujar dia era dihubungi, Senin (26/10/2020).

Kalau dunia usaha bangkrut oleh karena itu ekonomi Indonesia akan masuk ngarai krisis. “Kalau kredit mereka terhenti, permasalahan akan bergeser ke daerah keuangan. NPL naik tajam, permodalan bank tergerus dan ujungnya kita krisis perbankan dan krisis pola keuangan, ” papar dia.

Baca Juga:

Agar semua ini tidak berlaku, sejak awal OJK sudah menyingkirkan kebijakan pelonggaran restrukturisasi kredit. Akhirnya. dampak NPL perbankan terjaga, permodalan bank masih sangat baik. (Baca juga: Elektabilitas PAN Melorot, Itu Reaksi Loyalis Zulhas vs Amien Rais)

Selain tersebut, sistem perbankan juga masih tetap dan sehat. Di sisi lain dunia usaha juga masih bertahan. “Selama masih berlangsung pandemi beta kira kita masih memerlukan kecendekiaan pelonggaran restrukturisasi kredit, ” imbuh dia.