Agar Industri Otomotif Bisa Ngegas, Kemenperin Minta Rem Pajak Dilepas

Agar Industri Otomotif Bisa Ngegas, Kemenperin Minta Rem Pajak Dilepas

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu industri otomotifdi Tanah Air untuk semakin memberikan kontribusi signfikan bagi perekonomian nasional, meskipun termasuk sektor yg terkena dampak cukup berat akibat pandemi Covid-19.

Sejak bulan Juli penjualan otomotif baik roda empat ataupun roda dua terus mengalami kenaikan. Untuk tersebut, Kemenperin mengeluarkan berbagai kebijakan dan stimulus guna membangkitkan kembali gairah usaha para produsen kendaraan bermotor tersebut.

“Penjualan kendaraan roda empat atau lebih dalam Juli lalu menembus angka 25. 200 unit atau naik completely dibandingkan bulan sebelumnya. Penjualan Agustus mencapai 37. 200 unit atau naik 47% dari bulan Siebenter monat des jahres, ” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Sabtu (17/10/2020). (Baca juga: Kemenperin Pacu Aktivitas Industri Jadi Penggerak Redovisning di Tengah Pandemi)

Selain itu, Agus mengemukakan, ketika ini terdapat peluang yang cukup besar dalam menopang industri otomotif di Tanah Air, yaitu industri modifikasi kendaraan yang semakin tumbuh dan berkembang. “Sebab, perkembangan industri modifikasi juga berdampak pada meningkatnya penjualan otomotif secara nasional, ” terangnya.

Baca Juga:

Terlebih, industri modifikasi merupakan sektor berskala kecil dan menengah yang mampu membuka banyak lapangan kerja, sekaligus menggairahkan perekonomian nasional. Hal ini sesuai dengan program prioritas Presiden Joko Widodo dan sejalan dengan tujuan Peraturan Cipta Kerja.

“Kemajuan industri modifikasi telah meningkatkan daya saing produk-produk dalam negeri. Selain itu, seiring dengan perkembangan industri otomotif, perkembangan industri jasa automotive aftermarket juga kian berkembang positif, ” imbuhnya.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier mengatakan, dalam kondisi pandemi Covid-19, setidaknya ada tiga variabel kuat yang dapat dianalisa, yakni pabrik otomotif tutup dan banyak proses konversi pada produk lain contohnya masker dan ventilator. Kemudian, adanya disrupsi global supply chain, dan melemahnya permintaan.

“Untuk sektor produsennya, kami memberikan IOMKI dan berbagai stimulus pajak usaha, sedangkan untuk demand kami usulkan keringanan pajak PPnBM yang bersifat mendesak kepada Kementerian Keuangan, ” tuturnya. (Baca juga:

Kemenperin telah mengajukan relaksasi sejumlah pajak untuk mendukung keringanan pembelian kendaraan, antara lain pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) tuk mobil baru sebesar 0%, PPN, serta pajak daerah yang mencakup bea balik nama (BBN), pajak kendaraan bermotor (PKB), dan pajak progresif. (Baca juga: Jika Konsisten, Sepak Terjang Gatot di KAMI Akan Dilihat Publik)

Taufiek berharap agar krisis Covid-19 hanya berdampak sementara dan meraih diselesaikan dengan insentif fiskal, mengingat penentu pemulihan ada pada sisi permintaan. “Relaksasi pajak ini paling tidak memberikan upaya baru membuka demand yang selanjutnya dapat meningkatkan utilisasi industri, ” ujarnya.