RS Siloam Bogor Ingatkan Waspadai Petunjuk Dini Skoliosis pada Anak

RS Siloam Bogor Ingatkan Waspadai Petunjuk Dini Skoliosis pada Anak

BOGOR – Gaya duduk yang keliru ternyata mampu mengganggu perkembangan tulang belakang bani. Salah satunya akan berisiko skoliosis. Jika tidak segera ditangani, situasi itu akan memengaruhi postur awak hingga mengalami gangguan jantung.

Dokter spesialis Ortopedi di RS Siloam (Siloam Hospitals) Bogor, dr Peterson S SpOT(K) menjelaskan, skoliosis adalah kondisi di mana tangkas belakang melengkung, seperti huruf C atau S. (Baca juga: Optimalkan Layanan Pasien, RS Siloam Mataram Hadirkan Gerai Khusus)

Skoliosis bertambah sering ditemukan pada anak-anak sebelum masa pubertas, yaitu sekitar piawai 10-15 tahun. Skoliosis yang terjadi biasanya ringan, namun dapat tumbuh menjadi lebih parah seiring pertambahan usia, khususnya pada wanita. (Baca juga: Pentingnya Menggembala Jantung Tetap Sehat)

“Bila skoliosis menjadi berat, bisa menyebabkan penderitanya mengalami kekacauan jantung, paru-paru, atau kelemahan di tungkai, ” kata dia era berbicara di sela Bincang sehat bersama Sekolah Dian Harapan Daan Mogot, Jakarta Barat dengan dokter spesialis Ortopedi Siloam Hospitals Bogor, dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Minggu (4/10/2020).

Peterson mengatakan, cara mengetahui bani mengalami gejala dini Skoliosis adalah dengan menempatkan anak di ruangan yang luas dan sepi secara lepas baju dan celana, jaga privasi anak dari pandangan karakter lain.

Setelah tersebut, minta anak berdiri tegak & posisi orangtua di belakang tumpuan anak lalu di depan bani. Kemudian anak diminta membungkuk. Peristiwa itu dilakukan dengan penilaian mengenai kesejajaran bahu kedua sisi, kesejajaran tonjolan tulang belikat, kesejajaran lipatan pinggang, kesejajaran kedua siku, kesejajaran pinggul.

“Jika tahu adanya tanda tanda asimetris (ketidakseimbangan komposisi) dalam pemeriksaan orangtua, setidaknya ada tiga tanda pada bahu, pada punggung dan tulang pangkal, ” kata dia.

Sementara itu, Dokter Rehabilitasi Medis di Siloam Hospitals Bogor dr Nur Indah Lestari SpKFR mengucapkan, ada pun klasifikasi skoliosis terbagi menjadi empat, yaitu Infantile (0-2 tahun), Juvenile (3-9 tahun), Adolescent (10-17 tahun), Adult (18 tahun+).

“Faktor risiko skoliosis adalah jenis kelamin dan lebih dominan terjadi pada anak hawa. Hal itu diduga karena ciri gen dan keturunan. Tahap pertumbuhan tulang, lokasi kurva, defek jaringan ikat, rotasi tulang belakang, dan riwayat keluarga, ” jelas tempat.

Menurut dr Nur, adanya penanganan skoliosis sejak dini bermanfaat pada peningkatan kualitas tumbuh, estetika, menghindari nyeri punggung, serta fungsi pernafasan tidak terganggu bila bertambah dewasa.

“Sedangkan tujuan pengobatan atau pemulihan (exercise) adalah untuk memperbaiki ketidak seimbangan otot, meningkatkan kekuatan otot, mengurangi nyeri, memperbaiki kontrol postur, dan memperbaiki fungsi respirasi, serta meningkatkan fleksibilitas, ” pungkas dia.