Raksasa Sawit Disebut Dukung Praktik Deforestasi lewat RUU Cipta Kerja

Raksasa Sawit Disebut Dukung Praktik Deforestasi lewat RUU Cipta Kerja

JAKARTA – Pabrik kelapa sawit Indonesia serta para-para pembelinya yang tersebar di berbagai belahan dunia harus segera mendesak Presiden Joko Widodo dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI) untuk menghentikan pembahasan melanda ketentuan stimulus perekonomian yang tersimpan dalam RUU Cipta Kerja .

Kebijakan tersebut berpotensi memperburuk situasi deforestasi dalam Indonesia dan menghapus serangkaian kejayaan yang telah diraih dalam upaya pencegahan hilangnya kawasan hutan (deforestasi) yang sebagian besar didorong oleh diterapkannya praktik produksi minyak sawit yang lebih bertanggung jawab.

“RUU ini menimbulkan kerawanan besar bagi hutan Indonesia serta berisiko menyebabkan kerugian ekonomi dengan tak terhingga, ” kata Direktur Kampanye Senior Mighty Earth, Phelim Kine, dalam siara persnya dengan diterima SINDO Media , Rabu (16/9/2020).

Menangkap Juga:

(Baca: Peneliti IPB Ciptakan Baju Anti Peluru dari Limbah Kelapa Sawit)

“Para petinggi perusahaan minyak sawit manusia besar harus menjelaskan kepada masyarakat merata bahwa RUU ini menghancurkan semua kemajuan yang telah mereka raih dalam menurunkan tingkat deforestasi terkait produksi minyak sawit serta dapat menyebabkan kemunduran yang signifikan untuk industri tersebut. ”

Menurut Phelim Kine, beragam kemajuan yang telah dicapai oleh pabrik kelapa sawit dalam mengurangi tingkat deforestasi dan perusakan lahan gambut di Indonesia – tak asing berkat tekanan dan keterlibatan sebab pembeli, pemodal, kelompok masyarakat biasa, masyarakat adat dan komunitas yang berjuang di garis depan – menjadi titik terang dalam upaya mengatasi tren deforestasi global dengan kini tengah berlangsung.

Setidaknya 83% kilang minyak sawit di Indonesia dan Malaysia telah menyatakan komitmennya untuk mengimplementasi kebijakan “Tanpa Deforestasi, Tanpa Gambut dan Tanpa Eksploitasi” (NDPE). Ini merupakan peningkatan dengan sangat baik, mengingat pada November 2017 lalu, baru 74% kilang di kedua negara tersebut yang mengemukakan komitmen mereka.

Meskipun belum dijalani sepenuhnya, kontrak ini telah menyebabkan penurunan laju deforestasi terkait minyak sawit pada Indonesia dari satu juta hektar per tahun menjadi kurang lantaran 250. 000 hektar dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Bersandarkan kajian organisasi pemantau hutan nonpemerintah Global Forest Watch, angka deforestasi di Indonesia telah menyusut ke tingkat terendah sejak 2003.