Libatkan desainer dan Model Lokal, Masyarakat Desa Dikenalkan Batik Kedung Keris

Libatkan desainer dan Model Lokal, Masyarakat Desa Dikenalkan Batik Kedung Keris

loading…

GUNUNGKIDUL – Menikmati fashion show biasanya di sebuah ballrom hotel ataupun tempat mewah dengan catwalk & tamu para kaum elit. Namun, berbeda dengan yang dilakukan perancang seniman muda di Gunungkidul.

Mereka berani menyajikan peragaan baju kelas atas di halaman panti dan dilihat warga desa. Siasat yang dimotori Guntur Susilo artis Batik Warga Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari bersama seniman dan kaya muda Gunungkidul ini pun memperoleh sambutan luar biasa.

Dengan desain batik Kedung Keris belasan model tampil menawan dihadapkan warga Kalurahan Kedung Keris, Kapanewon Nglipar.

Dengan gaya klasik dan dimulai dengan oetunjukan wayang kulit ringkas, tentu saja menjadikan ajang fashions show in the Village tersebut berlangsung meriah.

Baca Juga:

Sutini, salah utama warga mengaku baru pertama tahu perayaan busana yang luar berpunya di desanya. “Baru sekali ini, bajunya bagus bagus dan mbak yang berjalan cantik – cantik, ” tuturnya saa melihat Fashion Show, Selasa (18/8 /2020) suangi.

Ratusan warga yang duduk dengan protokol kesehatan seakan dihipnotis untuk melihat model asli Gunungkidul yang lemah gemulai berlaku di catwalk panggung terbuka itu.

Tokoh dan pemerhati budaya Gunungkidul, Sunaryanto mengatakan, dirinya sengaja ingin menghadirkan konsep klasikal fahsion Show dengan memperkenalkan menulis Kedungkeris, sebuah mahakarya warga lokal yang patut diapresiasi dan diperkenalkan ke publik.

“Batik Kedung Keris memiliki arti tersendiri bagi Warga Kalurahan Kedung Keris, Nglipar. Kemudian acara tersebut belum pernah ada. Maka tersebut kami tampilkan di sini di halaman rumah saya. warga tempat juga punya hak menikmati Busana Show, tidak hanya kalangan elit saja, ” ulasnya.

Dalam agenda ini lanjutnya, selalu dipadukan dengan seni oetunjukan wayang kulit yang susah dikenal umum desa. Lakon wayangpun dipilih lakon Satria Pinilih mengiringi para cara.

Sementara Guntur Susilo mengaku berterima kasih kepada aktivis dan pemerhati Budaya Sunaryanto yang memberikan ide besar agenda itu. “Kali ini adalah konsep menulis Kedung Keris. Maka saya kisah di desain batik makna kedung keris itu, ” ungkapnya.

Dalam batik Kedungkeris tersebut, ia menuangkan gambar Keris serta Kedung. Di mana Keris merupakan lambang sebuah kewibawaan dan Lubuk memiliki makna sumber kehidupan. (Baca juga: Pangdam: Sidang Parade Caba Harus Jujur, Obyektif, Profesional serta Sesuai Protap)

“Kedung itu adalah cekungan berisi minuman yang menjadi sumber kehidupan, ” terangnya. Untuk menciptakan motif membatik ini, ia membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu lamanya. (Baca serupa: Jateng Gaungkan Semangat Jogo Buya di Perayaan Tahun Baru Islam 1442 H)

Selain mengangkat cerita sejarah Kedungkeris, menggambar ini juga menampilkan pewarnaan yang cenderung cerah seperti hijau, pink, kuning, ungu dan merah karena batin Kedungkeris juga memiliki keterangan doa dan harapan agar era depan Kalurahan Kedungkeris semakin cerah.

(boy)