PBB Tolak Perpanjang Embargo Senjata Iran, Rusia: Kami Punya Rencana Sendiri

PBB Tolak Perpanjang Embargo Senjata Iran, Rusia: Kami Punya Rencana Sendiri

loading…

MOSKOW Dewan Ketenteraman (DK) PBB sudah menolak resolusi yang diajukan Amerika Serikat (AS) untuk memperpanjang embargo senjata tanpa batas kepada Iran . Keputusan itu pula langsung menuai tanggapan dari Rusia , yang sedari awal dengan tegas menolak dasar AS tersebut.

Moskow tampak bersemangat untuk mengajukan rencana pilihan guna memastikan keamanan di wilayah tersebut.

“Kami telah mendengar Anda belum diberi terang tentang proposal Rusia. Singkatnya: Saya mengusulkan untuk memastikan keamanan di #TelukPersia, ” bunyi tweet akun Kementerian Luar Negeri Rusia dengan menandai akun resmi Presiden Vladimir Putin. Tweet tersebut terkait dengan pernyataan yang dibuat sebelumnya sebab Presiden Rusia Vladimir Putin pada situs resmi Kremlin.

Rusia selama ini sudah menolak kampanye “tekanan maksimum” AS terhadap Iran yang diluncurkan setelah menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 yang ditandatangani oleh kelima anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Iran dan Jerman. Pemerintahan Trump sejak itu memberlakukan sanksi berat terhadap Teheran, menuduhnya mengabaikan pakta multinasional dengan diam-diam mengejar senjata nuklir, mendanai milisi asing, dan mengejar teknologi rudal terakhir. (Baca: AS Dorong Penetapan Senjata Iran, Rusia: Kebijakan Menindas Maksimum)

Baca Juga:

“Perdebatan seputar masalah Iran di Dewan Keamanan PBB menjadi semakin tegang, ” kata pendahuluan Putin dalam pernyataannya Jumat pagi.

“Ketegangan semakin tinggi. Iran menghadapi tuduhan yang tidak berdasar. Resolusi sedang dirancang dengan maksud untuk membongkar keputusan yang telah dengan suara sempurna diadopsi oleh Dewan Keamanan, ” sambung Putin seperti dilansir dibanding Newsweek , Sabtu (15/8/2020).

Pemimpin Rusia itu mengumumkan komitmen teguh untuk kesepakatan nuklir Iran, yang sedang didukung oleh semua pihak penandatangan yang tersisa meskipun ada dalih mengenai implementasinya yang telah pegari sejak kepergian AS. Putin lalu memperkenalkan kembali Konsep Keamanan Beramai-ramai 2019 untuk Wilayah Teluk Bangsa persia, sebuah road map untuk menekan ketegangan regional yang telah hidup selama dua tahun terakhir, mengancam konflik antara AS dan Iran. (Baca: Rusia: AS Tak Akan Berhasil Perpanjang Embargo Senjata Iran)

“Kami sangat yakin bahwa masalah ini dapat diatasi jika kami mengakui posisi satu sama lain dengan perhatian dan tanggung jawab, sambil bertindak dengan hormat dan dalam semangat kolektif, ” tutur Putin.

“Seperti di mana pun di dunia, tidak tersedia tempat untuk memeras atau mendikte di wilayah ini, tidak ingat sumbernya. Pendekatan sepihak tidak hendak membantu menghasilkan solusi, ” tambahnya.

“Pengalaman membangun yang diperoleh sebelumnya melalui cara intensif harus dipertahankan saat membangun arsitektur keamanan yang inklusif dalam Teluk Persia, ” ujarnya.

Ia juga mengusulkan pertemuan virtual para pihak penandatangan kemufakatan nuklir, termasuk AS, untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pada pertemuan video anggota Dewan Keamanan PBB pada akhir Juni, perwakilan AS, termasuk Pompeo, mendapati diri mereka tersekat di antara negara lain, yang masing-masing menyuarakan dukungannya untuk kesepakatan nuklir Iran.

DK PBB memilih untuk menolak resolusi GANDAR untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Iran tanpa batas waktu. Sejak 15 negara DK PBB, 11 negara abstain, dengan dua bahana mendukung dan dua suara tak. AS membutuhkan sembilan suara untuk menang, tetapi Rusia dan China – dua negara yang menyerahkan suaramenolak – masing-masing memiliki benar veto dan akan mampu menghabisi resolusi tersebut bahkan jika disahkan. Republik Dominika adalah satu-satunya negeri yang memberikan suara mendukung GANDAR.

(ber)